Kisah Kebaikan Dibalik Segelas Kopi (Suspended Coffee)

Kopi

Kopi. image: tiedbow

Saya memasuki sebuah kedai kopi kecil bersama seorang teman dan memesan kopi. Ketika kami sedang menuju ke meja, ada dua orang yang datang kemudian mereka pergi ke counter,

Kami pesan lima kopi, dua untuk kami dan tiganya ditangguhkan (suspended).”

Mereka membayar pesanan mereka, mengambil hanya dua gelas saja, kemudian pergi. Saya bertanya kepada teman saya “Apa itu kopi ditangguhkan (suspended coffees)?” Teman saya berkata, “Tunggu, dan kamu akan lihat.” Beberapa orang lagi masuk. Dua gadis memesan masing-masing satu kopi, membayar dan pergi. Pesanan berikutnya tujuh kopi yang dipesan oleh tiga orang pengacara, tiga untuk mereka dan empat ‘ditangguhkan’. Terus terang saya masih bertanya-tanya, apa yang dimaksud dengan transaksi kopi ditangguhkan tadi.

Sementara saya menikmati cuaca cerah dan pemandangan yang indah ke arah alun-alun di depan kafe, tiba-tiba seorang pria berpakaian lusuh, tampak seperti seorang pengemis, masuk melalui pintu dan bertanya dengan sopan kepada pelayan, “Apakah Anda memiliki ‘kopi ditangguhkan’?

Ini sederhana. Seseorang membayar di muka pesanan kopinya, kemudian diniatkan untuk membantu orang yang tak mampu membeli minuman hangat. Tradisi kopi ditangguhkan ini dimulai di Naples (Italia), dan sekarang telah menyebar ke seluruh dunia, bahkan di beberapa tempat tidak hanya kopi, tetapi juga sandwich atau makanan.

Alangkah indahnya, bila pemilik kedai kopi atau toko di setiap kota melakukan hal ini, sehingga mereka yang kurang beruntung dapat menemukan harapan dan dukungan.

Suspended Coffee

Suspended Coffee

Bagikan ke: facebook twitter gplus