Beraja

Beraja saksi patah kali ini.
Satu. Dua. Tiga. Berkali patah dan patah lagi.
Kadang hati memilih jatuh sendiri, kadang hati memilih pada yang telah memiliki isi.
Aku benci pada diri, pada hati yang tak mau sendiri, atau pada cinta yang tak mau mati mencari.
Berkali patah kucoba hadapi, namun kali ini jauh terasa perih.
Benci.
Kujatuh pada hati yang termiliki.
Kali ini, pada beraja yang ingin pergi, kukata sunyi bahwa hati ingin berhenti.

Palembang, 23 Agustus 2013
Teruntuk sang beraja,
By: Della Nurannissah

(*) Beraja = bintang beralih, bintang jatuh
(**) Judul ini terinspirasi dari novel Anjar berjudul “Beraja

Bagikan ke: facebook twitter gplus